PPI GIFU

PPI GIFU Official Site

Friendship Sports Exchange for International Students from Indonesia

December 26th, 2012

Friendship Sports Exchange for International Students from Indonesia living in Chubu Region (central part of Japan) was held on Sunday, October 14th at Gifu University, Gifu.

This sports event is held annually hosted by PPI JEPANG (Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang : Indonesian Student Association in Japan) and five universities in Chubu Region (Gifu University, Nagoya University, Toyohashi University of Technology, Shizuoka University and Mie University) take turns in organizing the Exchange every year.

More than one hundred students and their families took part in, and they all had a wonderful time playing badminton and table tennis at Gifu University 2nd Gymnasium.

Gifu University Indonesian Student Group fought their way through the tournament and placed first this year. The next Friendship Sports Exchange is scheduled to be held in Shizuoka organized by Shizuoka University.

Participants are enjoying badminton matches

Participants are enjoying badminton matches

One of the heated table tennis matches

One of the heated table tennis matches

Trophy goes to Gifu University Indonesian Student Group
Trophy goes to Gifu University Indonesian Student Group

source : http://www.gifu-u.ac.jp/english/view.rbz?cd=80

Alternatif Energi Listrik Murah di Indonesia: Dye Sensitized Solar Cells (DSSCs) atau Sel Surya Pewarna Tersensitisasi (SSPT)

November 21st, 2012

Alternatif Energi Listrik Murah di Indonesia: Dye Sensitized Solar Cells (DSSCs) atau Sel Surya Pewarna Tersensitisasi (SSPT)

Oleh

Asdim*)

Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan populasi penduduk dan pertumbuhan industri di dunia, maka kebutuhan energi dunia di proyeksikan akan menjadi 25.6 TW pada tahun 2035(1). Saat ini, sumber energi utama untuk memenuhi kebutuhan energi dunia adalah berasal bahan bakar fosil seperti minyak bumi, gas, dan batubara. Tetapi seperti yang diketahui bersama, energi dari bahan bakar fosil akan mengalami pengurangan jika dipakai terus-menerus. Sehingga suatu saat sumber energi ini akan habis dan manusia di muka bumi akan menghadapi masalah yang sangat besar akibat langkanya energi. Disamping masalah berkurangnya sumber energi dari bahan bakar fosil, jenis energi ini juga memberikan dampak terhadap pencemaran lingkungan dan pemanasan global. Sehingga untuk mencari solusi dari permasalahan ini, para peneliti di dunia berlomba-lomba untuk mengembangkan energi alternatif yang murah dan ramah lingkungan yang dinamakan dengan energi baru dan terbarukan. Salah satu energi baru dan terbarukan yang banyak di kembangkan adalah solar cells atau sel surya karena sumbernya sangat tidak terbatas, bebas digunakan sampai kapanpun dan ramah lingkungan.

Sekarang ini, sel surya barbasis silicon menguasai hampir semua produk sel surya di dunia karena memiliki efisiensi yang tinggi, sekitar 15-20%. Tetapi produk ini mempunyai kelemahan dalam tahap proses produksinya, yaitu membutuhkan proses fabrikasi yang sangat kompleks (pemurnian, proses kristalisasi, dan fabrikasi) dan membutuhkan banyak energi(2), sehingga produk ini menjadi mahal dan sulit dijangkau oleh para konsumen di dunia. Untuk memecahkan masalah ini, sel surya jenis baru yang murah dan sederhana dalam proses produksinya telah banyak di kembangkan untuk pengganti sel surya silicon. Salah satunya yang banyak dikembangkan adalah dye sensitized solar cells (DSSCs) atau sel surya pewarna tersensitisasi (SSPT). Sampai saat ini, SSPT telah mencapai efisiensi lebih dari 12%(3). Sel surya jenis ini, terdiri dari 1) sebuah metal-oksida (TiO2, ZnO atau SnO2) sebagai kolektor elektron sekaligus sebagai anoda, 2) a dye, zat pewarna yang berfungsi sebagai penyerap cahaya matahari untuk menghasilkan elektron biasanya adalah senyawa komplek Ruthenium atau senyawa organik, 3) sebuah elektrolit untuk meregenerasi zat pewarna dan 4) sebuah katoda, biasanya digunakan platina atau carbon hitam yang dilapisi pada sebuah kaca konduktor(4).

Skema lengkap dari rangkaian sel surya pewarna tersensitisasi (SSPT) dapat dilihat pada Gambar 1 berikut:

Gambar 1. Skema rangkaian sel surya pewarna tersensitisasi (SSPT)

Dari gambar diatas, ada lima langkah cara kerja dari SSPT ini. Yang pertama adalah dye atau zat pewarna menyerap foton dari cahaya matahari yang akan menghasilkan dye dalam bentuk tereksitasi dan elektron akan tereksitasi dari tingkat energi rendah ke tingkat energi yang lebih tinggi. Pada tahap selanjutnya, tahap kedua, elektron akan di injeksikan kedalam pita konduksi dari metal oksida (TiO2, ZnO atau SnO2). Kemudian pada tahap ketiga, elektron bergerak menuju sebuah elektroda lawan (counter electrode) melalui proses pengumpulan di dalam metal oksida dan dari metal oksida elektron terus bergerak melalui sebuah sirkuit eksternal (bisa alat ukur listrik, lampu, atau alat-alat elektronik lainnya). Pada tahap keempat, elektron menghasilkan sebuah zat kimia pasangan reduksi-oksidasi. Dan tahap kelima sirkuit akan lengkap dengan regenerasi dye yang tereksitasi menjadi dye dalam bentuk original/dasar oleh zat kimia pasangan reduksi-oksidasi. Dan siklus ini akan terus berulang selama sel surya ini disinari dengan cahaya matahari.

Jika diamati dari jenis komponen yang digunakan dalam suatu rangkaian SSPT, komponen penyusunnya relatif sangat murah dibandingkan dengan proses fabrikasi sel surya berbasis silicon. Sebagai contohnya, dalam fabrikasi metal-oksida tidak memerlukan proses dengan tingkat kemurnian yang tinggi dan dengan proses fabrikasi yang sederhana seperti screen printing. Untuk zat pewarna atau dye, bisa digunakan ekstrak bahan alam yang berasal dari berbagai macam tumbuhan yang dapat menyerap cahaya matahari. Karena proses fabrikasi yang relatif jauh lebih murah dibandingkan dengan sel surya berbasis silicon, maka potensi pengembangan sel surya pewarna tersensitisasi ini terutama di negara-negara berkembang menjadi sangat besar dan sangat menjanjikan untuk penyediaan energi listrik murah dan ramah lingkungan.

Khusus di Indonesia, potensi pemanfaatan sumber energi dari cahaya matahari sebagai sumber energi murah dan ramah lingkungan juga sangat besar. Berdasarkan informasi dari kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, ESDM, potensi energi surya di Indonesia sangat besar yaitu sekitar 4.8 kWh/m2 (5). Potensi yang sangat besar ini harus digunakan secara optimal dan efisien untuk pemenuhan kebutuhan energi, khususnya energi listrik di Indonesia. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa untuk produksi sel surya berbasis silikon masih dibutuhkan biaya yang sangat mahal karena prosesnya yang kompleks dan membutuhkan peralatan yang canggih sehingga di perlukan alternatif sel surya yang lebih murah. Dengan murah dan sederhananya proses produksi, negara-negara berkembang seperti Indonesia bisa memproduksi sendiri sel surya dalam pemenuhan kebutuhan energi listriknya. Dye sensitized solar cells (DSSCs) atau sel surya pewarna tersensitisasi (SSPT) adalah salah satu sel surya yang sangat menjanjikan untuk dikembangkan karena proses produksi yang sederhana sehingga biaya yang dibutuhkan relatif jauh lebih murah. Dalam proses produksinya tidak dibutuhkan alat-alat yang canggih dan mahal. Khususnya di Indonesia, potensi pengembangan sel surya jenis ini juga akan semakin besar karena dye atau zat pewarna yang digunakan bisa berasal dari pemanfaatan ekstrak bahan-bahan alam. Indonesia yang sangat kaya dengan bahan alam hayati yang berasal dari tumbuhan asli Indonesia, akan sangat berpotensi untuk menghasilkan zat pewarna yang efektif dan efisien untuk menyerap cahaya matahari sehingga bisa menghasilkan sel surya dengan performa yang tinggi. Dengan melakukan penelitian yang intensif untuk eksplorasi pemanfaatan ekstrak bahan alami sebagai zat pewarna dalam sel surya pewarna tersentisasi ini, maka Indonesia diharapkan bisa memproduksi sendiri sel surya ini dengan menggunakan bahan kimia lokal sebagai komponen utamanya.

Walaupun penelitian-penelitian tentang sel surya pewarna tersentisasi ini sudah dimulai di beberapa lembaga penelitian seperti LIPI dan beberapa perguruan tinggi di Indonesia seperti ITB, ITS, UGM dan UI, tetapi penelitian sel surya jenis ini masih dalam tahap penelitian di laboratorium dan jumlah penelitiannya juga masih sangat terbatas. Penelitian yang berorientasi kepada aplikasi untuk proses produksi modul sel surya jenis ini masih sangat sedikit dan harus dikembangkan. Para peneliti di seluruh Indonesia yang mengeluti bidang ini tidak bisa bekerja sendiri-sendiri dan harus duduk bersama untuk fokus mengembangkan sel surya jenis ini. Dengan berkolaborasi antara satu peneliti dengan peneliti lainnya, maka tingkat kemajuan penelitian di bidang ini akan sangat cepat. Dalam rangka kolaborasi ini, salah satu jalan yang bisa dengan cepat dilakukan adalah dengan membuat sebuah grup penelitian atau pusat penelitian di bidang ini dalam skala Indonesia, sehingga dengan adanya wadah ini, diharapkan komunikasi dan kerjasama dalam pengembangan penelitian dengan mudah dilakukan. Dengan wadah ini, penelitian akan bisa lebih difokuskan dalam satu tujuan yaitu produksi sel surya pewarna tersensitisasi dengan performa tinggi. Dengan adanya usaha-usaha nyata seperti ini, pemanfaatan sel surya jenis ini sebagai alternatif energi listrik murah di Indonesia akan dapat segera di wujudkan dalam waktu dekat untuk pemenuhan kebutuhan energi listrik untuk rakyat Indonesia. Semoga…

Referensi
1. Zhou et al., Energy and Environmental Science, 2012, 5, 6732.
2. Mauk G. M., JOM-Overview, May 2003.
3. Yella et al., Science, 334, 2011, 629.
4. Gratzel M., Journal of Photochemistry and Photobiology C, 4, 2003, 145-153.
5. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, ESDM Indonesia
(www.esdm.go.id/berita/artikel/56-artikel/5797-matahari-untuk-plts-di-indonesia-.html)

*) Penulis saat ini sedang studi program doktor (S3) di Gifu University Jepang, dengan tema penelitian Dye Sensitized Solar Cells (DSSCs).
Gifu, 21 Nopember 2012.

CHUBU MATCH : Indonesia Raya Bergemuruh di Universitas Gifu

October 25th, 2012

Hari Minggu, 14 Oktober 2012 terasa begitu sangat spesial bagi penduduk Indonesia yang tergabung dalam PPI Korda Chubu. PPI Korda Chubu yang menaungi 5 komisariat PPI, yakni PPI Gifu, PPI Mie, PPI Nagoya, PPI Toyohashi dan PPI Shizuoka menghelat pesta tahunan mereka, Chubu Match,  yang kali ini digawangi oleh teman-teman di PPI Gifu. Pada kesempatan tersebut terdapat rangkaian pertandingan olahraga dalam cabang Bulutangkis dan Tenis Meja dengan total laga sebanyak 49 pertandingan. Secara keseluruhan kegiatan ini mengambil tema “For Indonesia We Do the Best!!!”


Dimulai tepat pada pukul 9.30, Ketua Pelaksana Khandra Fahmy memberikan laporan kegiatan secara umum kepada Ketua PPI Korda Chubu, Suyuti Nurdin, yang membuka acara setelah Ketua PPI Gifu, Alwis Nazir, menyampaikan ucapan selamat datang kepada semua peserta. Peserta pun diminta untuk berbaris dan bersemangat menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Pagelaran akbar Korda Chubu ini menjadi lebih spesial dimana terdapat acara makan siang bersama diserta sholat Zuhur berjamaah yang telah dikoordinir dengan baik oleh panitia pelaksana.

Hasil Pertandingan

Seluruh nomor yang dipertandingan pada pelaksanaan kali ini menghasilkan pertandingan yang menarik, sehingga perolehan medalipun terlihat sangat sengit. PPI Gifu hanya unggul dalam jumlah perolehan medali perak dari pada peringkat 2 yang ditempati oleh PPI Nagoya, yang merupakan juara bertahan tahun lalu, setelah kedua Komsat tersebut masing-masing meraih 3 medali emas. Sedangkan PPI Toyohashi yang menempatkan paling banyak tim pada partai final harus puas membawa pulang 1 emas dan 5 perak.

   Komsat Emas Perak
1 Gifu 3 2
2 Nagoya 3 -
3 Toyohashi 1 5
4 Mie - -
5 Sizuoka - -

Tunggal Putra Badminton :

  1. Endra Gunawan (Nagoya)
  2. Dicky Fatrias (Toyohashi)

Ganda Putra Badminton :

  1. Ahmad Herodi & Asdim (Gifu)
  2. Odi Akhyarsi & Iwan Sukarno (Toyohashi)

Tunggal Putri Badminton :

  1. Sofa N. (Gifu)
  2. Rahma Yanda (Gifu)

Ganda Putri Badminton :

  1. Sofa N. & Rahma Yanda (Gifu)
  2. Yulia Hayati & Asri Suciati (Toyohashi)

Ganda Campuran Badminton :

  1. Odi Akhyarsi & Mega Mutiara Sari (Toyohashi)
  2. Nova Ulhasanah & Indra Irawan(Toyohashi)

Tunggal Pingpong :

  1. Sandi Rais (Nagoya)
  2. Markus Umboh (Toyohashi)

Ganda Pingpong :

  1. Frands Hendri & Sandi Rais (Nagoya)
  2. M. Amin & Siswoyo (Gifu)

 

Foto : Anggota PPI Korda Chubu

PPI Gifu Juara Lomba Sensus PPIJ 2012

August 3rd, 2012

Setelah melalui puluhan postingan email himbauan kepada seluruh anggota PPI Gifu untuk melakukan registrasi untuk program Lomba Sensus PPIJ 2012 akhirnya alhamdulillah memberikan hasil yang manis buat komsat PPI Gifu.

Komsat PPI Gifu berhasil menjadi satu-satunya komsat dengan kategori komsat < 50 orang yang pencapaian registrasi sensus anggotanya 100% dan berhak atas dana pembinaan sebesar ¥ 30,000.

Siapakah yang paling berjasa sehingga bisa menang? Apakah yang terakhir melakukan registrasi? Apakah yang pertama kali melakukan registrasi? Apakah sang ketua yang sibuk menyuruh anggotanya untuk registrasi? Tidak !! Yang berjasa adalah semuanya, baik yang paling akhir registrasi, nomor satu, nomor dua dan seterusnya, seluruh pengurus dan anggota PPI Gifu, semuanya berjasa. Hilang saja satu maka kemenangan ini tidak akan bisa diraih. Semoga PPI Gifu bisa mempertahankan kekompakan ini untuk selamanya. BRAVO PPI GIFU.

 

Hello Gifu Hello World

December 13th, 2011

Hello Gifu Hello World (HGHW) merupakan kegiatan tahunan yang diikuti oleh berbagai organisasi di Jepang dan juga negara-negara lain. PPI Gifu secara aktif berpartisipasi setiap tahunnya dengan menampilkan stand makanan ringan dan berbagai souvenir khas Indonesia serta brosur tentang Indonesia yang dibagikan kepada pengunjung. Tahun ini dilaksanakan pada tanggal 3 Desember 2011.

Kali ini PPI Gifu selain sebagai peserta stand juga menampilkan tari rantak dan lagu khas Indonesia yang menarik perhatian pengunjung dan mendapat apresiasi. Para wartawan pun jadi penasaran ingin tahu tentang tari tersebut, mereka menghampiri tim tari untuk diwawancarai dan foto bersama, penampilan tari rantak pun dimuat di Gifu Shinbun. Pemutaran video tentang Indonesia dan angklung yang dipajang pada stand juga mendapat perhatian khusus bagi orang Jepang dan warga negara lain, tidak sedikit yang mencoba memainkan angklung, anak-anak pun tak ketinggalan mencoba memainkannya. Diakhir acara panitia mengundang khusus kepodium untuk memperkenalkan dan memainkan angklung tersebut.

Hati-hati dengan Do’a yang Terkabul

November 21st, 2012

Hati-hati dengan doa yang terkabul*)

Dalam islam kita diajarkan untuk senantiasa berdoa kepada Allah. Allah menguasai dan memiliki segalanya. Setiap sesuatu terjadi atas izinNya dan kehendakNya. Maka kita dianjurkan untuk selalu meminta kepada Allah segala sesuatu yang baik-baik, untuk kehidupan dunia dan kehidupan kita di akhirat. Dan orang-orang yang sombong lah yang tidak mau dan malas berdoa kepada Allah.

Sudah menjadi kewajiban juga bagi kita, bahwa Doa harus diringi dengan usaha. Kita tidak boleh diam tanpa melakukan sesuatu apapun setelah berdoa, harus ada usaha yang kita lakukan.

Jika kita menginginkan surga, terus kita berdoa untuk itu, kita mestilah berusaha untuk mengerjakan amalan-amalan dan tingkah laku yang sholeh dan menjauhkan diri dari perkara-perkara yang dilarang oleh Allah. Jika kita berdoa agar Allah melimpahkan rezeki, kita mesti bekerja keras untuk itu.

Tetapi satu hal yang harus kita waspadai adalah apabila doa-doa kita selalu dikabulkan oleh Allah SWT.

Tentunya apabila doa kita terkabul, kita harus bersyukur kepada Allah SWT, dan kalimat ini tentu sudah ketahui semua. Bersyukur atau berterimakasih kepada Allah SWT, tentunya tidak cukup hanya dengan mengucapkan Alhamdulillah dan membagi kesenangan yang kita dapatkan kepada orang lain.

Tetapi esensi syukur yang sebenarnya adalah kita berterimakasih kepada Allah dengan cara lebih meningkatkan ketaatan kita kepada Allah dan lebih meningkatkan lagi kualitas dan kuantitas amal ibadah kita kepada Allah SWT.

Kita bisa membayangkan dari ilustrasi berikut:

Jika kita mohon pertolongan dari seseorang, mungkin misalnya kita puluhan tahun menginginkan rumah yang layak untuk tinggal, terus kita minta bantuan saudara kita, dan salah seorang dari saudara kita yang punya kelebihan banyak rezeki, menghadiahkan sebuah rumah untuk kita walaupun rumah itu kecil tetapi jauh lebih layak untuk kita tinggali dibandingkan dengan rumah yang sekarang ini. Tentunya kita akan sangat berterimakasih sekali kepada saudara kita ini, dan tidak hanya sekedar ucapan terimakasih yang kita sampaikan, tentu nya sangat manuasiawi jika kita akan sangat respect dan akan selalu berusaha untuk mengikuti saran-saran saudara kita ini untuk kehidupan kita selanjutnya karena kita sangat menghormati saudara kita atas pertolongannya tersebut. Hal diatas kita lakukan terhadap manusia.

Pertanyaannya adalah: bagaimana cara kita berterimakasih kepada Allah yang telah memberikan semua yang kita minta dan bahkan yang tidak kita minta??

Sudah seharusnya kalau kita bersyukur atau berterimakasih kepada Allah adalah dengan cara meningkatkan ketaatan dan kualitas (kuantitas) amal ibadah kita kepada Allah SWT..

Dan yang harus kita lebih kita waspadai lagi adalah; jika setelah kita mendapatkan apa yang kita minta, justru ketaatan dan kualitas serta kuantitas amal ibadah kita menjadi menurun atau hilang sama sekali...Naudzubillah…

Harus kita ketahui bahwa ada dua kemungkinan mengapa Allah mengkabulkan permintaan hambanya.

Pertama. karena Dia cinta dan sayang terhadap hamba tersebut.

Dan kedua, karena Allah murka terhadap orang tersebut.

Jika pengabulan doa kita, karena memang Allah sayang sama kita, tentunya itu merupakan keberuntungan untuk kita.

 Tetapi sekali lagi yang perlu kita waspadai adalah Allah mengabulkan doa kita jangan-jangan karena kita dimurkai oleh Allah.. Naudzubillah..

 Firman Allah dalam surah Al-An’am, ayat 44:

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”

Sesungguhnya apabila Allah murka terhadap seseorang, ada kalanya Allah akan menambah rezeki seseorang, meningkatkan derajatnya dan mengkabulkan permintaanya. Orang tersebut lalu akan menjadi lebih lalai dari Allah, akan terus tenggelam dengan kenikmatan dunia dan maksiat. Akhirnya Allah akan mencabut nyawanya dalam keadaan dia lalai. Sehingga dia mati dalam keadaan buruk su’ul khatimah. Inilah yang dikatakan ulama sebagai istidraj.

Ahli tafsir yang terkenal Ibnu Katsir menggambarkan bentuk kehidupan orang yang istidraj adalah Allah bukakan berbagai-bagai pintu rejeki dan berbagai sumber penghidupan (kedudukan, jabatan, gelar, dan kehormatan) sampai mereka terperdaya olehnya dan beranggapan bahwa diri mereka di atas segala-galanya.” (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3 hal 258)

Jika kita melihat definisi dari istidraj oleh Ibnu katsir, yang termasuk kehidupan orang yang istidraj adalah jika segala kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah, membuat orang itu bertambah lalai dalam beribadah kepada Allah karena terpedaya oleh kenikmatan yang telah didapatkannya seperti kedudukan, jabatan, pekerjaan, gelar dan kehormatan… Naudzubillah…

Terakhir, marilah kita selalu berdoa semoga Allah selalu menjadikan kita hamba-hamba yang bersyukur dengan cara selalu meningkatkan ketaatan dan amal ibadah kepadaNya..Amiin…

Wallahuwa’lam,

Asdim

*) tulisan ini diambil dari berbagai sumber, mohon maaf jika ada kesalahan karena dibuat disela-sela waktu istirahat sore (refreshing pikiran) di Lab habis Magrib hari ini. Semoga ada manfaatnya untuk kita semua.

Gifu, Senin, 19 Nopember 2012.

Peraturan Penelitian

October 30th, 2012

Terry Mart

Dosen Fisika Universitas Indonesia

Kompas, 29 oktober 2012

Beberapa waktu lalu departemen kami kedatangan tamu seorang profesor fisika muda dengan prestasi penelitian yang cemerlang dari National University of Singapore.

Tentu saja yang menarik bukan melulu karena dia seorang profesor di NUS, singkatan universitas nasional di Singapura itu, melainkan karena dia seorang warga negara Indonesia. Ia menamatkan sarjana di salah satu perguruan tinggi di republik ini.

Dengan sederet publikasi ilmiah di jurnal papan atas berfaktor dampak sangat tinggi seperti Nature, Science, Applied Physics Letters, dan Physical Review Letters serta dana dan fasilitas penelitian yang tak terbayangkan untuk peneliti Indonesia, tentu saja anak muda ini tidak dapat dipandang enteng di komunitas ilmiahnya. Didorong rasa ingin tahu tentang sepak terjangnya di komunitas ilmiah, saya segera meramban laman tempat yang bersangkutan bekerja.

Saya terkesima, di grup penelitiannya bercokol dua profesor warga negara kita, lulusan perguruan tinggi Tanah Air, dengan segudang prestasi ilmiah seperti publikasi dan paten internasional. Saya sangat yakin, NUS bukan hanya menyimpan dua ilmuwan seperti ini. Masih banyak yang lain yang jarang terliput. Dengan prestasi yang mereka miliki, mereka bersafari ke Tanah Air mencari calon-calon mahasiswa pascasarjana cemerlang untuk diajak bergabung dengan grup mereka.

Cemerlang di Luar

Jelas hal ini menjadi pertanyaan besar, mengapa anak bangsa bisa begitu cemerlang di luar negeri. Sedikit saja keluar dari peta Indonesia, prestasi dapat meningkat luar biasa. Pasti ada yang salah dengan sistem kita karena kita jelas menyimpan segudang generasi muda genius, yang dibuktikan dengan perolehan medali emas di ajang-ajang olimpiade nasional hingga internasional, baik sains maupun sosial.

Memang jumlah dana penelitian yang diinvestasikan pemerintah masih jauh dari cukup. Namun, jika dibandingkan dengan 10 tahun silam, peningkatan prestasi penelitian kita tidak seimbang dengan peningkatan dana yang terjadi. Tidak diragukan lagi, sistem yang berlaku telah memberikan andil penting pada permasalahan ini, apalagi jika dikaitkan dengan merosotnya prestasi ilmuwan kita dibandingkan dengan tetangga.

Sebenarnya, permasalahan penelitian di Tanah Air sudah cukup jelas meski sangat rumit karena terkait dengan sistem dan budaya, seperti kepangkatan dan jabatan, kegilaan akan gelar, hingga uang. Solusi yang paling ideal tentu saja ”reformasi”. Namun, jelas hal ini sulit dilakukan. Resistensinya mahadahsyat karena menyangkut hajat hidup banyak individu. Contoh paling sepele adalah kesadaran pentingnya publikasi internasional.

Publikasi Penelitian

Publikasi internasional sebenarnya untuk menjaga kualitas penelitian agar hasil penelitian bermakna secara universal. Karena produktivitas penelitian berkaitan langsung dengan karier si peneliti, publikasi ini membuat peneliti tetap diakui sejawatnya secara global.

Selain itu, publikasi internasional juga sangat diperlukan masyarakat global karena melalui cara ini para peneliti bergotong royong menyelesaikan permasalahan sehingga hasilnya dapat lebih cepat dinikmati masyarakat. Namun, yang tidak kalah penting adalah publikasi internasional merupakan bentuk pertanggungjawaban ilmiah atas dana yang telah dipakai, yang jauh lebih berarti dari sekadar laporan keuangan karena hanya sejawat sebidang yang dapat memeriksa keabsahan hasil penelitian.

Kedua anak muda di NUS itu paham betul bahwa mereka tidak dapat mempertahankan karier jika tidak memiliki publikasi di Nature atau Science. Di republik ini, publikasi internasional malah sering dibenturkan dengan keperluan praktis sesaat atau dengan kondisi penelitian yang kurang kondusif saat ini.

Lebih tragis lagi, kewajiban publikasi internasional bagi calon doktor yang sudah sangat lazim saat ini, baik di negara maju maupun jiran, mendapat tentangan hebat di sini. Hal ini sangat menyedihkan karena selain sangat tidak tepat, pembenturan ini mencerminkan ketidakpahaman akan hakikat penelitian.

Aturan Penelitian

Jika reformasi terasa mustahil dilakukan, mungkin pemerintah dapat mengawal kemajuan penelitian melalui peraturan penyelenggaraan penelitian (PPP) di perguruan tinggi. Karena PPP harus dapat memagari kualitas peneliti dan hasil penelitian melalui publikasi dan paten internasional, dalam pembuatannya kita harus belajar dari negara berkembang yang berhasil dalam hal ini. Sebutlah Singapura, Malaysia, atau Afrika Selatan. Untuk meningkatkan sinergi dan efisiensi, perlu pembagian porsi yang jelas antara perguruan tinggi dan lembaga penelitian (kementerian).

Seyogianya PPP mendorong semua perguruan tinggi mengalokasikan sejumlah dana untuk tujuan penelitian. Untuk perguruan tinggi riset, alokasi dana penelitian 10 persen dari dana operasional bukanlah hal yang tidak masuk akal, bahkan dapat dikatakan minimal. Perguruan tinggi juga dapat menugaskan sejumlah pengajar yang berprestasi untuk fokus dalam penelitian, seperti yang dilakukan Universitas Indonesia dalam empat tahun terakhir.

Sejalan dengan itu, pemerintah harus pula melakukan peningkatan investasi penelitian melalui pembangunan infrastruktur penelitian secara berkala serta pemberian insentif penelitian. Kita tahu, investasi penelitian di negara kita kalah jauh dibandingkan dengan negara jiran. Maka, PPP harus dapat mendorong tercapainya critical mass di tiap komunitas penelitian. Pada akhirnya, PPP harus berhasil mengangkat peradaban bangsa ini melalui penelitian, sesuai dengan amanat UUD 1945.

PPI Gifu : Selamat Idul Adha 1433 H

October 28th, 2012

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, La Ilaha Illallah,
Wallahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahil-Hamd.

Bukan PPI Gifu namanya jika melewati momen-momen spesial tanpa melakukan silaturahmi sesama anggotanya. Begitu juga pada tanggal 27 Oktober 2012 yang lalu, setelah melaksanakan Sholat Ied sehari sebelumnya, maka anggota PPI Gifu berbondong-bondong ke Sukaijo yang telah disewa khusus untuk acara perayaan Idul Adha kali ini oleh PPI Gifu. Acara ini berlangsung dengan khidmat sekaligus santai. Setelah siraman rohani yang diberikan langsung oleh Prof. Choirul Muslim, anggota pun berhadapan dengan hidangan makanan yang telah tersaji dengan apik dan menggoda selera.

Kami segenap Keluarga Besar PPI Gifu, mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Idul Adha 1433 H. Semoga kita semua dapat mengambil iktibar dari apa yang telah dicontohkan oleh orang-orang soleh pendahulu kita (berkorban pastilah terkorban).

(Foto : Alwis Nazir)