Hati-hati dengan doa yang terkabul*)
Dalam islam kita diajarkan untuk senantiasa berdoa kepada Allah. Allah menguasai dan memiliki segalanya. Setiap sesuatu terjadi atas izinNya dan kehendakNya. Maka kita dianjurkan untuk selalu meminta kepada Allah segala sesuatu yang baik-baik, untuk kehidupan dunia dan kehidupan kita di akhirat. Dan orang-orang yang sombong lah yang tidak mau dan malas berdoa kepada Allah.
Sudah menjadi kewajiban juga bagi kita, bahwa Doa harus diringi dengan usaha. Kita tidak boleh diam tanpa melakukan sesuatu apapun setelah berdoa, harus ada usaha yang kita lakukan.
Jika kita menginginkan surga, terus kita berdoa untuk itu, kita mestilah berusaha untuk mengerjakan amalan-amalan dan tingkah laku yang sholeh dan menjauhkan diri dari perkara-perkara yang dilarang oleh Allah. Jika kita berdoa agar Allah melimpahkan rezeki, kita mesti bekerja keras untuk itu.
Tetapi satu hal yang harus kita waspadai adalah apabila doa-doa kita selalu dikabulkan oleh Allah SWT.
Tentunya apabila doa kita terkabul, kita harus bersyukur kepada Allah SWT, dan kalimat ini tentu sudah ketahui semua. Bersyukur atau berterimakasih kepada Allah SWT, tentunya tidak cukup hanya dengan mengucapkan Alhamdulillah dan membagi kesenangan yang kita dapatkan kepada orang lain.
Tetapi esensi syukur yang sebenarnya adalah kita berterimakasih kepada Allah dengan cara lebih meningkatkan ketaatan kita kepada Allah dan lebih meningkatkan lagi kualitas dan kuantitas amal ibadah kita kepada Allah SWT.
Kita bisa membayangkan dari ilustrasi berikut:
Jika kita mohon pertolongan dari seseorang, mungkin misalnya kita puluhan tahun menginginkan rumah yang layak untuk tinggal, terus kita minta bantuan saudara kita, dan salah seorang dari saudara kita yang punya kelebihan banyak rezeki, menghadiahkan sebuah rumah untuk kita walaupun rumah itu kecil tetapi jauh lebih layak untuk kita tinggali dibandingkan dengan rumah yang sekarang ini. Tentunya kita akan sangat berterimakasih sekali kepada saudara kita ini, dan tidak hanya sekedar ucapan terimakasih yang kita sampaikan, tentu nya sangat manuasiawi jika kita akan sangat respect dan akan selalu berusaha untuk mengikuti saran-saran saudara kita ini untuk kehidupan kita selanjutnya karena kita sangat menghormati saudara kita atas pertolongannya tersebut. Hal diatas kita lakukan terhadap manusia.
Pertanyaannya adalah: bagaimana cara kita berterimakasih kepada Allah yang telah memberikan semua yang kita minta dan bahkan yang tidak kita minta??
Sudah seharusnya kalau kita bersyukur atau berterimakasih kepada Allah adalah dengan cara meningkatkan ketaatan dan kualitas (kuantitas) amal ibadah kita kepada Allah SWT..
Dan yang harus kita lebih kita waspadai lagi adalah; jika setelah kita mendapatkan apa yang kita minta, justru ketaatan dan kualitas serta kuantitas amal ibadah kita menjadi menurun atau hilang sama sekali...Naudzubillah…
Harus kita ketahui bahwa ada dua kemungkinan mengapa Allah mengkabulkan permintaan hambanya.
Pertama. karena Dia cinta dan sayang terhadap hamba tersebut.
Dan kedua, karena Allah murka terhadap orang tersebut.
Jika pengabulan doa kita, karena memang Allah sayang sama kita, tentunya itu merupakan keberuntungan untuk kita.
Tetapi sekali lagi yang perlu kita waspadai adalah Allah mengabulkan doa kita jangan-jangan karena kita dimurkai oleh Allah.. Naudzubillah..
Firman Allah dalam surah Al-An’am, ayat 44:
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”
Sesungguhnya apabila Allah murka terhadap seseorang, ada kalanya Allah akan menambah rezeki seseorang, meningkatkan derajatnya dan mengkabulkan permintaanya. Orang tersebut lalu akan menjadi lebih lalai dari Allah, akan terus tenggelam dengan kenikmatan dunia dan maksiat. Akhirnya Allah akan mencabut nyawanya dalam keadaan dia lalai. Sehingga dia mati dalam keadaan buruk su’ul khatimah. Inilah yang dikatakan ulama sebagai istidraj.
Ahli tafsir yang terkenal Ibnu Katsir menggambarkan bentuk kehidupan orang yang istidraj adalah Allah bukakan berbagai-bagai pintu rejeki dan berbagai sumber penghidupan (kedudukan, jabatan, gelar, dan kehormatan) sampai mereka terperdaya olehnya dan beranggapan bahwa diri mereka di atas segala-galanya.” (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 3 hal 258)
Jika kita melihat definisi dari istidraj oleh Ibnu katsir, yang termasuk kehidupan orang yang istidraj adalah jika segala kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah, membuat orang itu bertambah lalai dalam beribadah kepada Allah karena terpedaya oleh kenikmatan yang telah didapatkannya seperti kedudukan, jabatan, pekerjaan, gelar dan kehormatan… Naudzubillah…
Terakhir, marilah kita selalu berdoa semoga Allah selalu menjadikan kita hamba-hamba yang bersyukur dengan cara selalu meningkatkan ketaatan dan amal ibadah kepadaNya..Amiin…
Wallahuwa’lam,
Asdim
*) tulisan ini diambil dari berbagai sumber, mohon maaf jika ada kesalahan karena dibuat disela-sela waktu istirahat sore (refreshing pikiran) di Lab habis Magrib hari ini. Semoga ada manfaatnya untuk kita semua.
Gifu, Senin, 19 Nopember 2012.